Jumat, 13 Februari 2009

Roy, Izinkan Aku Menemanimu!

By Aling

Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke kampus baru, selain lebih dekat dari kostku, fasilitas yang tersedia juga lebih lengkap.

Tampangku yang kalem (kata teman-temanku) dan postur tubuhku yang mirip model (hanya mirip loh...) mampu membuat aku menjadi sorotan mahasiswa dikampus UNTAN ini.Selain kuliah, saya sibukan diri di berbagai kegiatan akademik, karena keaktifanku dikegiatan akademi namaku cepat dikenal .


Banyak surat-surat cinta yang kuterima, atau ajakan secara langsung untuk menikmati akhir pekan atau sekedar jjs. Tapi aku tak berminat dengan semua ajakan tersebut. Ngak tahu knapa,t ak satupun mahasiswa dikampus ini yang dapat membuat hatiku tersentuh. Kurasa perbuatan mereka terlalu berlebihan dan konyol.
Pagi ini pelajaran komputer.A ku paling suka dengan dosen yang satu ini. Berkulit putih, bermata teduh dibalik kaca mata minusnya dan yang paling menarik dia mengenakan pakaian apa saja enak dipandang. Aku paling semangat jika dia lagi menerangkan.
Kupandang terus mukanya sambil mendengarkan dia memberi penjelasan atas pertanyaan salah satu mahasiwa. kadang-kadang aku merasa dia juga memandangku (lagi narsis....)
Semua ini aku ngak berani ceritakan pada siapapun termasuk sahabat karibku Lisa.
"Aduh nona manis ngelamun apa sih?", dosen sudah keluar masih duduk dengan tatapan kayak gitu", kata Lisa melambaikan 5 jari-jarinya didepan mataku.
Walah aku masih larut dalam lamunan yang menghatarkanku kedunia lain... kok bisa ya otakku memikir dosen satu ini, sampai separah ini.


***

Pagi ini kayak biasa , saya tunggu bis mau pergi kuliah. Sudah hampir setengah jam, saya berdiri menunggu disini. Tapi bis selalu penuh dengan orang-orang. Maklum kalau pagi hari banyak orang mau kesekolah, kekampus, ke kantor.
Tiba-tiba aku dengar klakson dari mobil didepanku.
"Ayo naiklah, kita sama-sama kekampus ", kata Roy melambaikan tangan dari dalam mobilnya.
Roy adalah teman sefakultasku.Tanpa berpikir panjang saya naik kemobilnya jika tidak , saya bisa-bisa terlambat mengikuti mata kuliah dosen kiler hari ini.
"Kamu, kok lewat sini ", kataku memulai pembicaraan.
"Rumahku diujung jalan itu, orang tuaku buka toko Permata Bunda", katanya menjelaskan.
"Lah, kamu juga tinggal didaerah sini ya?", katanya balik bertanya.
"Aku kost di gang Asean", kataku lagi.
"ya sudah setiap hari saya jemput kamu kan searah ",katanya menawarkan diri.
"Ah... ngak usahlah, ngak enak sama kamu", kataku menolak dengan halus, padahal aku takut jadi gunjingan dikampus. Karena aku merasa Roy juga menaruh perhatian denganku.


***

Sudah satu minggu ngak melihat dosen favoritku. Hari ini pelajaran komputer lagi. Aku sengaja berpakaian agak menarik, sehelai demi sehelai baju-baju dilemariku kucoba, akhirnya aku pilih kemeja biru dan mengenakan rok jeans diatas lutut.Rambutku kusisir berulangkali, kupoles sedikit lip gloss, kulihat cermin berulang-ulang (untung cermin ngak bisa bicara....) apakah sudah oke penampilanku. Setelah itu saya bersiapa-siap menunggu bis didepan gangku.
Bunyi klakson, membuyarkan aku dari lamunan, kulihat Roy melambaikan tangan kearahku, "sudah sekalian sama-sama kekampus", katanya sembari mengeluarkan kepalanya.
Akhirnya aku naik juga. Sesampai di parkir kamus, pas mau turun kulihat dosen favoritku keluar dari dalam mobilnya. Dengan senyum ramah aku menyapanya"Selamat pagi Pak!".
"Pagi", kata dosen itu sembari tersenyum.
Dari percakapan kami baru aku tahu bahwa dosen itu adalah saudara sepupu Roy.
Sejak melihat saya dengan Roy diparkir kampus itu, dosen ini menggangap saya dan Roy adalah sepasang kekasih.
"Jaga Roy baik-baik ya?", katanya suatu hari pas ketemu di ruang komputer pas yang lainnya lagi sibuk-sibuk membuat tugas komputer.
"Walah... saya dan Roy hanya teman saja, Pak!",kataku membela diri.
"Roy bilang, dia naksir berat sama kamu",katanya melanjutkan pembicaraan.
"Saya hanya anggap Roy sebagai sahabat", kataku lagi sambil menetralkan hatiku yang mulai berdetang kencang.
"Ya Tuhan, yang aku taksir bukan Roy tapi kamu", kataku dalam hati.Tapi aneh justru orang yang aku sukai kok kayaknya cuek-cuek aza.


***

Akhirnya, kuputuskan cerita dengan Roy, bahwa yang aku suka adalah Dosen komputer itu.
"Apa?", kata Roy setengah terkejut. Dia hampir tak percaya.
"Iya",kataku.
"Aku ngak bisa bohongin hatiku,dan aku juga ngak punya cara supaya dosenku itu tahu, ada sebuah rasa dihatiku melihat dosen itu.Bantu aku ya Roy!"kataku seraya memohon.
Kulihat kekecewaan dimata Roy.
"Roy maafkalah aku, mungkin aku bukan yang tepat untukmu, aku yakin Tuhan telah sediakan yang terbaik buatmu", kataku sambil kulihat rawut mukanya yang berbeda.
"Roy, kamu mau bantu aku ngak?", kataku mengulang lagi kalimatku tadi.
"Ya, aku usahakan", katanya seraya menarik nafas panjang.
***setelah Roy ceritakan ke Heri (nama dosenku). Heri mulai menelponku, mulai mengajakku jalan-jalan, ketoko-toko buku atau perpustakaan. Ini adalah tempat favorit Heri. Aku mulai sibuk dengan kebersamaanku dengan Heri. Aku senang bersamanya walau tempat yang dia kunjungi ngak semuanya adalah tempat yang biasanya dikunjungi anak-anak muda. Aku mulai lupa dengan Roy. Suatu sore aku dapat sebuah dari sms Roy.
"Laura,kamu sudah jadian belum dengan Heri, aku harap kamu bahagia, kamu memang pantas dengan Heri. Aku juga ngak mungkin bisa membahgiakanmu,karena....."
Aku heran kok ngak ada kelanjutannya. Aku balas smsnya.
"Karena apa Roy?", kataku dalam sms.
Tapi ngak pernah ada balasan dari Roy.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan waktu berlalu Roy hilang bagai ditelan bumi. Tak pernah aku lihat dia dikampus, atau setiap pagi didepan gangku. Aku kira dia sibuk dengan bisnis orang tuanya yang buka cabang didaerah lain. Dari pembicaraan salah satu mahasiwi samar kudengar pernah melihat Roy di rumah sakit ganti darah.Kudekati mahasisiwi itu . Kutanyakan apa yang kudengar tadi .
" Roy mengindap Leukimia?", tanyaku hampir tak percaya.
Mahasisiwi itu mengangguk kepala. Saa t itu dia juga menggantar mamanya cuci darah karena leukimia.
"Ya Tuhan, Roy kok ngak pernah cerita kepadaku",kataku terkejut seraya menempelkan kedua tanganku kemulutku yang melonggo mendengar berita ini.
Kutelepon Roy, tapi dia tidak pernah mau mengakat telepon dari aku. Ngak banyak orang yang tahu atas penyakit Roy ini, Heri aja terkejut saat saya beritahukan. Aku kerumah Roy.Tapi ngak kutemukan Roy disana.Ternyata Roy pindah kekota sebelah dimana perawatan medis lebih lengkap. Kusiapkan barangbarangku dan aku pergi mencarinya dikota itu. Setelah aku temukan alamat yang diberikan tetangganya aku memberanikin diri memencet bel rumah bercat biru ini.
"Cari siapa non",k ata wanita separuh baya.
"Maaf tante apa ini rumah Roy", kataku lagi.
"Iya, kamu siapa?", katanya balik bertanya.
"Aku sahabat Roy, kami satu falkutas. Boleh aku menjenguknya, tante", kataku sambil tersenyum.
"Boleh, terimakasih, silakahkan, tapi Roy sudah banyak berubah, dan saya tidak tahu pasti apakah dia mau menemui kamu!", katanya mempersilahkan aku masuk keruang tamu.
Mamanya mengetuk kamar Roy, akhirnya dia mempersilakan saya masuk dan dia pergi kedapur menyiapkan sesuatu untuk Roy.
***Kulihat Roy terbaring lemah, kurus ditempat tidurnya.
"Roy, kamu kok ngak pernah cerita dan menghilang begitu saja, aku sahabatmu", kugenggam tangganya.
"Laura, aku malu dengan keadanku ini, lihat rambutku sudah mulai rontok,aku sudah jelek sekali dan umurku hanya tinggal hitung waktu saja", katanya begitu lemah.
"Ya setidaknya aku bisa menemanimu atau aku siap berbagi cerita denganmu", kataku sambil tersenyum gentir.
"ah, biarlah semua seperti biasa,jangan karena penyakitku membuat kamu kasihan", katanya sambil menyalahkan remote televisi.
Dibalik penyakit ganas itu ,masih kulihat ketegaran dihati Roy. Kami berbicara panjang lebar, sampai menjelang senja, aku berpamitan dan berjajnji akan sering-sering menjengguknya.
Sekarang dalam hatiku ada rasa kasihan dengan Roy. Bila ada waktu luang aku selalu menyempatkan diri untuk mengajaknya jalan-jalan dekat rumahnya, biar dia menggerakan otot yang sudah makin lemah. Aku selalu menemaninya, karena bisa saja dia tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri, aku ingin saat itu ada orang bersamanya. Rasa sakit itu bisa tiba-tiba merasuk ditubuhnya ,kadang aku lihat dia kesakitan sampai merinding kedinginan. Apalagi saat dilakukan terapi penyembuhan, kulihat dia menahan sakit yang luar biasa,l alu tergulai lemas. Kurebahkan kepalaku didadanya, aku ingin tubuhnya dapat merasakan kehangatan dari auraku,k ugenggam tangannya untuk memberi suatu kekuatan padanya dan aku ingin dia tahu, aku bersamanya. Aku benar-benar ngak tega lihat keadaannya.
***Roy, inzinkan aku menemaimu, saat matanya terbuka dari pingsan yang kesekian kali. Setelah sadar beberapa saat dia menyuruh aku pulang untuk istirahat. walaupun sedikit waktu yang kamu miliki, aku harap dihari-hari terakhirmu aku bisa membuat kamu bahagia dan selalu menemanimu.
"Thanks, Laura. Kehadiranmu memang mampu membuat aku kuat,tapi aku ngak mau gara-gara aku kamu jadi melalaikan tugas-tugasmu, aku mau kamu seperti biasa dan jangan perlakukan aku seperti orang sakit", katanya setengah memohon.
Kebersamaanku dengan Roy, menumbuhkan rasa simpatikku padanya. Pelan-pelan menggeser rasa cintaku pada Heri. Aku juga ngak tahu apakah ini dinamakan cinta. Semudah itukah cinta berpaling? Yang aku tahu Roy lebih butuh aku. Akan kutemani Roy menikmati hari-hari yang tertinggal, yang kami tidak tahu hanya berapa lama. Kucoba beri dia kekuatan. Kuhangatkan dia dengan pelukan.
"Roy, walau sedikit waktu yang kita miliki, aku ingin ini adalah saat-saat termanis yang pernah kita alami", kataku suatu hari seraya mendorong kursi rodanya di taman rumah sakit.
Penyakit Roy sudah makin parah dan mengharuskannya rawat inap dirumah sakit.
"Thanks Laura,maafkan aku telah merepotkanmu",katanya sambil tersenyum.
ku tempelkan telunjuku dimulutnya. Aku perbaiki shall dilehernya ,aku harap kamu bisa menikmati hari-hari bersamaku, jangan pikir yang macam-macam.
"Roy, aku juga merasa mulai mencintaimu", kataku sambil berjongkok menggengam tangannya.
Kulihat butiran jatuh dari sudut matanya.
"Laura, aku tak pantas membuat kamu begini, aku juga tak pantas menerima cintamu ,aku sudah banyak menyusahkanmu, aku ngak mau kamu merasa kasihan padaku", katanya seraya memandang orang yang berlalu -lalang ditaman ini.
Kuhapus air mata yang mulai mengalir itu.
"Bukan karena kasihan, kebersamaan kita selama ini membuat aku lebih mengenalmu", kataku sambil mendorong kursi rodanya kearah kolam ikan.
"Izinkalah aku menemanimu !sampai akhir hidupmu", kataku setengah memohon.
"Laura aku ngak tahu mesti bagaimana?Satu kata yang mampu aku ucapkan THANKS!",katanya sambil menepuk lemah tanganku.
"Janji ya! kita bersama ", kataku sambil menempelkan kelinking kami.
Heri akhirnya pacaran denga Lisa sahabat baikku. Dia merelakan aku dengan keputusanku. Walau pertama kali aku bilang aku mencintai Roy, aku dibilangnya orang gila, tapi perbuatan aku dapat menyakinkannya bahwa aku benar-benar mencintai Roy. Dia juga tahu, Roy memang lebih butuh aku.


***

Tanah itu sudah mengering. Kubawa serangkai bunga matahari kesukaan kami. Kuletakan dipusaranya. Roy berpulang dalam dekapanku, 5 tahun silam.
Tapi memori indah bersamamu dihatiku tak akan pernah mati...
"Laura kamu harus cari penggantiku, aku baru bisa tenang dialam sana", itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya sebelum menutup mata.
"Roy, biarlah aku simpan namamu dalam hatiku.Tapi aku ingin kamu tahu, aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku. Keputusanku bersamamu sudah benar, walaupun sedikit dan sebentar waktu yang kita miliki. Aku merasa bahagia. Seperti pelangi walau muncul hanya sebentar tapi keindahannya selalu dikenang dan didambahkan semua jiwa. Kuharap kamu bisa tenang disana", kataku seraya memandang angkasa, aku tahu kamu melihatku dan menjagaku dari atas sana.


Taiwan, 9 september 2008

3 komentar:

RCO mengatakan...

ini cerpen apa kisah nyata, Kak.

ernalilis mengatakan...

Ini aku berkunjung dirumah barumu Aling..?
Siapa laura ya ?

aling mengatakan...

@RCO
ini hanya fiksi...

@ ernalilis

thanks buat kunjungannya..