Kamis, 12 Februari 2009

Kita Dipermainkan, Keadaan!




Pic diambiL dari www.kathys-comments
By Aling

Lonceng berbunyi, tampak keceriaan diwajah anak SMEA Immanuel siang ini. Istirahat adalah saat-saat yang dinantikan oleh kami, setelah 2 jam menikmati celoteh guru-guru yang sedikit membosankan. Semangatku mulai timbul, karena dari tadi pelajaran matematika membuat kepalaku jadi mumet. Aku cari Philia sahabat karibku dikelas sebelah. Kami beda kelas karena kami berbeda jurusan. Philia memilih jurusan akuntansi dan saya lebih memilih jurusan manajemen binis karena aku malas berhadapan dengan angka-angka , yang selalu membuat otakku mumet.

"Philia", kataku seraya menepuk bahunya. Saat kulihat dia lagi membereskan buku-buku kedalam tasnya.

"Oke", katanya mengandeng tanganku.



Kami menuju kantin, disana aku lihat Troy dan konco-konconya. Setelah memesan makanan kami, aku sengaja memilih meja yang berhadapan dengan mereka. Ngak tahu knapa walau Troy dianggap anak yang paling bandel di SMEA ku ini. Tapi aku tertarik dengan dia. Dia kelihatan begitu macho dimataku. Wajahnya yang culun, rambut cepaknya, dan cara jalannya mirip2 dengan pemeran drama korea yang akhir2 ini sering aku saksikan.

Kuceritakan semuanya pada Philia.

"Apa? kamu suka manusia bandel itu, aku ngak salah dengar ? ", katanya tertawa terbahak-bahak.

"Sst...", aku mengisyaratkan agar dia diam, takut kedengaran yang lain.

Iya", kataku dengan gaya orang bersalah.

"Edan", katanya seraya menggerutkan keningnya.

Lonceng tanda masuk berbunyi. Aku segera bangkit, dengan setengah berlari. Aku tak sengaja menabrak Troy yang juga bangkit mau menuju kelas. Uh..bagai sengatan listrik,saat tubuh kami bersentuhan. Rasa itu menyalar keseluruh tubuhku.

"Maaf..maaf", kataku seraya berlari menuju kelas, aku tak berani menengadahkan wajahku karena malu.

Beberapa hari kemudian, aku temukan sebuah kertas dilaciku.

"Hi...aku Troy. Salam kenal ya. Aku suka tabrakan tempo hari, aku tunggu kamu siang ini diperpustakaan!"

Jantungku berdegup kencang.Kutengadahkan mukaku , melihat ada tidak teman sekelasku memperhatikanku. Cepat-cepat kumasukan kertas itu kedalam saku baju seragamku. Hatiku berdegup makin kencang, saat menjelang istrirahat. Aku tidak tahu apakah aku punya keberanian ke perpustakaan?

"Kok, kamu tidak keperpustakaan kemarin, aku menunggu sampai bel tanda masuk, gimana caranya aku bisa bicara dengan kamu secara langsung?" demikian isi kertas yang kutemukan pagi ini.

"Aduh...bagaimana ini , kataku bingung. Aku juga tak berani menceritakan kepada Philia karena takut ditertawainya atau disebarluaskannya pesan2 ini.

Selama 2 minggu ini, hampir setiap pagi kutemukan kertas bertulisan pendek dari Troy. Tak satu pun aku jawab karena aku tak tahu bagaimana caranya. Aku juga ngak mau ketahuan sama orang-orang sesekolah! Aku sampai tak berani kekantin, takut ketemu Troy disana.

Saat aku mau menghidupkan motorku diparkir sekolah, kulihat Troy berjalan menghampiriku.

"Mati aku", kataku dalam hati.

"Sophia, kamu kok ngak pernah jawab pesan-pesanku", katanya memulai pembicaraan. Aku binggung dan tak tahu mau jawab apa.

"Kok diam??", katanya melanjutkan pembicaraan.

"Kamu takut dilihat orang ya, berbicara denganku", mungkin dilihatnya aku seperti orang bingung, bukan binggung tapi malah mirip orang blo-on.

"Oke, kamu tunggu aku di cafe A. yani. Tunggu aku ya!", katanya menuju kearah motornya.

Tak tahu kenapa, aku bagai terhipnotis mendengar perintahnya. Aku memilih bangku yang agak pojok. Aku takut pas ada anak-anak dari sekolahanku lewat melihat ku dan troy di cafe ini.

"Thanks ya! Kamu mau menunggu aku disini", katanya seraya meletakkan tas sekolahnya. Aku hanya mampu melontarkan senyum.

"Aku sudah lama ingin berbicara denganmu", katanya memulai pembicaraan."

"Kayaknya, kamu selalu menghindar dariku, kamu takut ya, teman-teman menertawaimu karena bersahabat dengan anak bandel kayak aku", katanya seraya memilih menu yang tertulis di kertas menu.

Setelah berbicara panjang lebar, diiringi gelak tawa, kudapati ternyata Troy memiliki pribadi yang berbeda, dia baik. Kenakalannya hanya untuk menarik perhatian orang-orang terhadapnya.Troy, adalah anak tunggal. Papa dan mamanya harus bekerja keras, karena desakan bisnis yang dijalankan orang tuanya. Hampir tak ada waktu yang orang tuanya luangkan padanya. Hanya pagi hari bisa melihat orang tuanya saat sarapan, itupun jika Troy bangun agak awal, jika Troy bangun agak lambat, papa dan mamanya sudah berangkat kerja. Malam hari saat Troy sudah tidur, papa dan mamanya baru sampai dirumah. Troy memang anak yang kurang mendapatkan perhatian orangtuanya.

Kami sering bertemu diluar, akhirnya kami mulai pacaran, cinta monyet mungkin. Suatu hari saya ajak Troy main kerumahku. Papaku menentang habis-habisan setelah tahu siapa orang tua Troy. Rupanya mereka adalah musuh dalam bisnis. Mereka bergerak dalam bidang yang sama.

"Kamu tidak boleh bersahabat dengannya", itu undang-undang yang pertama papa keluarkan dalam hidupku.

"Pa, itukan masalah orang tua, tak ada hubungannya dengan kami", kataku membantah.

"Tutup mulutmu", kata papaku dengan marah.

Begitu besarnya dendam mereka, yang sampai saat ini aku belum bisa mengerti. Sekarang aku sudah dipeguruan tinggi. Aku dan Troy satu kampus berbeda falkutas. Sampai saat ini papa masih menentang hubungan kami, walau aku dan Troy sudah pacaran hampir 3 tahun.

"Troy, kuharap, kekuatan cinta kita, mampu menggoyahkan hati papaku", kataku suatu hari saat kami menelusuri pantai.

Pantai adalah saksi bisu cinta kami. Laut biru selalu iri dengan kebersamaan kami. Hanya ombak-ombak yang seakan-akan memberi kami kekuatan untuk tetap teguh menjalin cinta ini. Pasir-pasir seakan-akan diam tak berani ber-argumen.

"Pilihan dan keputusan ditangan kami", kata burung camar yang berterbangan kesana kemari seakan-akan senang menyambut kedatangan kami.

Kadang bisa kurasakan kekhawatiran di mata bening Troy. Kadang dia duduk sendiri melamun, tanpa aku tahu apa yang dia pikirkan.

"Troy, ada kesulitan kita baru dapat merasa bahwa kebersamaan adalah sebuah anugerah", kataku sambil menempelkan kepalaku dibahunya yang kokoh. kugenggam erat tangannya, kami terus menyusuri pantai putih ini. Seakan-akan kami tidak mau berhenti, terus dan terus berjalan dalam kebersamaan.

Suatu hari, Troy pergi entah kemana, orang tuanya juga tidak tahu dia dimana, walaupun Troy selalu memberi kabar tentang keadaannya, tapi tak sekalipun Troy mau memberitahu dimana dia berada sekarang.

"Troy, kamu jahat, kamu ninggalin aku tanpa aku tahu salahku", kataku saat ketepi pantai seorang diri.

Sudah beberapa tahun, aku tak tahu bagaimana kabar Troy. Pernah aku dengar kabar dari papanya, kalau Troy ke Jepang bekerja di kapal nelayan.

"Teganya kamu Troy, aku sudah hampir tak sanggup menahan rindu ini", kataku berteriak sekuat-kuatnya berharap Troy mendengar.

Dari kejauhan, samar-samar kulihat sosok seseorang, mirip Troy, berjalan menghampiriku. Aku berlari menuju sosok itu. Aku hampir tak percaya, benar-benar Troy. Walaupun rambutnya sudah gondrong, mukanya kurus, dengan kumis yang tak terurus aku masih bisa mengenal dia memang Troyku.

Kupeluk dia erat-erat. Akan kucurahkan seluruh rindu yang mendera didada ku ini. Rindu yang sudah hampir tak mampu aku tampung.

"Troy, kemana kamu selama ini", kataku seraya menangis.

"Sophia, aku pergi mencari jati diri. Benar kata papamu, aku tak pantas untukmu", katanya begitu tenang.

"Aku pulang, untuk berpamitan denganmu, carilah penggantiku, aku tak pantas untukmu,dan kuharap penantianmu berakhir disini", katanya sambil menantap laut.

Troy jauh berbeda dari 3 tahun silam. Dia begitu kokoh dan dewasa.

"Troy, apa salahku?" kataku tak bisa menerima.

"Keadaan yang salah Philia, kita dipermainkan oleh keadaan", katanya begitu tenang.

Akhirnya, Troy berjalan meninggalkan aku yang terduduk tak bertenaga. Bagai mimpi disiang bolong. Aku akan kehilangan Troy untuk selamanya.

Beberapa tahun kemudian aku baru tahu, kepergian,Troy selama ini adalah karena ancaman papaku. Jika Troy tak meninggalkan aku, papa akan menghancurkan bisnis orangtuanya dan bahkan akan menghabisi nyawa kedua orang tuanya. Aku baru tahu,setelah tanpa sengaja aku membaca blog Troy yang kutemukan tak sengaja di dunia maya. Disana tertulis banyak kisah kehidupannya dalam cerpen, cintanya, kerinduannya, dan juga pilihan sulit yang harus dia pilih. Yang semuanya memang persis sekali dengan kisah yang kami jalani.

"Papa, kamu begitu kejam, Kamu pisahkan kami, tanpa mau tahu kepedihan dihati kami", hanya itu yang mampu aku ucapkan, dimalam sunyi ini. Dari balik tirai kulihat hujan mengucur deras, sekan-akan tahu kesedihan yang kurasa.

Saat aku bangun besok pagi, ngak tahu apa yang harus saya ucapkan dengan papa saya, aku takut hatiku akan membencinya........untuk selamanya.

Taiwan, 14 Sepetember 2008

Tidak ada komentar: